Cara Membuat Pembukuan Sederhana untuk UMKM (Lengkap dengan Contoh)
Banyak pemilik warung dan usaha kecil merasa jualannya ramai, tapi uangnya entah ke mana. Penyebabnya hampir selalu sama: tidak ada catatan. Kabar baiknya, pembukuan sederhana tidak butuh ilmu akuntansi. Dengan lima langkah di bawah ini dan sekitar 10 menit sehari, kamu akan tahu persis apakah usahamu untung atau rugi.
- Pisahkan uang usaha dan uang pribadi.
- Tulis saldo kas awal.
- Catat setiap uang masuk dan keluar di hari yang sama.
- Kelompokkan dengan kategori.
- Hitung laba rugi setiap akhir bulan.
1. Pisahkan uang usaha dan uang pribadi
Langkah ini paling sering dilewati, padahal paling penting. Kalau uang belanja rumah diambil dari laci warung tanpa dicatat, laporanmu tidak akan pernah benar.
Caranya: siapkan satu laci, dompet, atau rekening khusus untuk usaha. Boleh saja mengambil uang usaha untuk keperluan pribadi, asal dicatat sebagai ambil pribadi, bukan sebagai pengeluaran usaha. Sebaliknya, uang tabungan yang kamu masukkan ke usaha dicatat sebagai tambah modal, bukan pemasukan.
Kenapa harus dibedakan? Karena modal dan uang pribadi bukan hasil jualan. Kalau dicampur, laba akan terlihat lebih besar atau lebih kecil dari yang sebenarnya.
2. Tulis saldo kas awal
Hitung semua uang usaha yang ada hari ini: di laci, di dompet usaha, dan di rekening usaha. Angka ini adalah saldo kas awal, titik nol pembukuanmu. Mulai dari sini, setiap transaksi akan menambah atau mengurangi saldo.
3. Catat setiap transaksi di hari yang sama
Setiap uang masuk dan keluar dicatat dengan empat hal: tanggal, keterangan, kategori, dan jumlah. Contohnya seperti ini:
| Tanggal | Keterangan | Kategori | Jumlah |
|---|---|---|---|
| 05/10 | Penjualan minggu ke-1 | Penjualan | Rp6.540.000 |
| 06/10 | Belanja stok ke grosir | Belanja stok | Rp5.300.000 |
| 10/10 | Sewa kios bulan Oktober | Sewa tempat | Rp750.000 |
Usaha yang ramai sebaiknya mencatat penjualan setiap hari. Usaha kecil boleh merekap per minggu, asal tidak ada yang terlewat. Kuncinya satu: catat sebelum lupa.
4. Kelompokkan dengan kategori
Kategori membuatmu bisa melihat ke mana uang paling banyak keluar. Untuk usaha kecil, daftar ini biasanya sudah cukup:
- Pemasukan: penjualan, pelunasan kasbon, pendapatan lain.
- Pengeluaran: belanja stok atau bahan baku, gaji karyawan, sewa tempat, listrik-air-internet, transportasi, promosi, peralatan, lain-lain.
- Bukan pemasukan atau pengeluaran: tambah modal dan ambil pribadi. Keduanya mengubah saldo kas, tapi tidak dihitung dalam laba.
Jangan membuat terlalu banyak kategori. Sepuluh sampai lima belas sudah cukup untuk kebanyakan usaha.
5. Hitung laba rugi setiap akhir bulan
Rumusnya sederhana:
Laba bersih = Total pemasukan − Total pengeluaran
Contoh dari sebuah toko sembako di bulan September:
| Total pemasukan (penjualan) | Rp25.650.000 |
| Total pengeluaran | Rp23.385.000 |
| Laba bersih | Rp2.265.000 |
|---|
Di bulan yang sama, pemiliknya menambah modal Rp2.000.000 dari tabungan. Kalau uang itu ikut dihitung sebagai pemasukan, laba September akan terlihat Rp4.265.000, hampir dua kali lipat dari yang sebenarnya. Itulah kenapa langkah pertama tadi sangat penting.
Bandingkan laba dari bulan ke bulan. Kalau turun, lihat kategori pengeluaran mana yang naik.
Tidak mau mulai dari nol?
Template Pembukuan Usaha dari Junbiku sudah berisi semua langkah di atas: saldo kas otomatis, laba rugi per bulan, stok barang, dan catatan kasbon. Bisa dibuka di Excel dan Google Sheets.
Lihat templateCatatan tambahan yang sering dibutuhkan
Stok barang
Catat stok awal, barang masuk, dan barang keluar. Dengan begitu kamu tahu kapan harus belanja lagi sebelum barang habis, dan berapa nilai barang yang masih ada di toko.
Kasbon pelanggan
Tulis nama pelanggan, tanggal, jumlah, dan kapan janji dibayar. Saat dibayar, catat pelunasannya sebagai pemasukan. Kasbon yang tercatat jauh lebih jarang terlupa.
Kesalahan yang paling sering terjadi
- Mencampur uang belanja rumah dengan uang usaha.
- Menunda mencatat sampai akhir minggu, lalu banyak yang lupa.
- Tidak mencatat pengeluaran kecil seperti bensin, plastik, atau parkir. Kecil, tapi kalau dijumlah sebulan bisa ratusan ribu rupiah.
- Menganggap semua uang di laci adalah keuntungan.
Pakai buku tulis, Excel, atau aplikasi?
Buku tulis bisa, asal rajin. Masalahnya, menjumlah dan membuat laporan bulanan harus dikerjakan manual. Excel atau Google Sheets lebih praktis karena total dan laporan dihitung otomatis, dan filenya bisa dibuka di HP.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apakah pembukuan sederhana sama dengan laporan keuangan untuk pajak?
Belum tentu. Pembukuan sederhana membantumu memantau usaha sehari-hari. Untuk keperluan pajak atau pengajuan pinjaman, tanyakan format yang diminta ke petugas pajak, bank, atau konsultan.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan setiap hari?
Kalau dicatat setiap hari, biasanya cukup 5 sampai 10 menit.
Gaji untuk diri sendiri dicatat di mana?
Gaji karyawan dicatat sebagai pengeluaran. Uang yang kamu ambil untuk dirimu sendiri sebagai pemilik dicatat sebagai ambil pribadi, supaya laba usaha tetap terlihat jelas.