Cara Memisahkan Uang Usaha dan Uang Pribadi (7 Langkah untuk UMKM)
Pagi ambil uang laci untuk belanja dapur, siang bayar listrik rumah pakai uang hasil jualan, malam bingung kenapa modal terus berkurang. Kalau ini terdengar akrab, kamu tidak sendirian. Mencampur uang usaha dan uang pribadi adalah kebiasaan yang paling sering membuat usaha kecil sulit berkembang. Berikut tujuh langkah untuk memisahkannya.
- Siapkan rekening atau dompet khusus usaha.
- Tetapkan modal awal dan catat.
- Masukkan semua penjualan ke kas usaha.
- Gaji dirimu sendiri dengan jumlah tetap.
- Catat setiap kali terpaksa memakai uang usaha.
- Catat juga barang dagangan yang dipakai sendiri.
- Cocokkan kas dan catatan setiap akhir bulan.
Kenapa harus dipisah?
- Kamu bisa tahu laba yang sebenarnya.
- Modal usaha tidak habis tanpa terasa.
- Catatan yang rapi memudahkan saat mengajukan pinjaman usaha.
- Lebih tenang: uang belanja rumah sudah pasti, uang usaha juga jelas.
1. Siapkan rekening atau dompet khusus usaha
Bisa rekening kedua di bank yang sama, e-wallet khusus usaha, atau setidaknya laci dan dompet yang terpisah. Yang penting, semua uang usaha masuk dan keluar dari satu tempat.
2. Tetapkan modal awal dan catat
Hitung uang usaha yang ada hari ini, lalu catat sebagai saldo kas awal. Mulai hari itu, setiap rupiah yang keluar-masuk dari kas usaha dicatat.
3. Masukkan semua penjualan ke kas usaha
Termasuk pembayaran QRIS dan transfer. Kalau bisa, atur supaya uang QRIS masuk ke rekening usaha. Kalau belum bisa, catat setiap pembayaran yang masuk ke rekening pribadi sebagai penjualan, lalu pindahkan uangnya ke kas usaha.
4. Gaji dirimu sendiri
Tentukan jumlah tetap yang kamu ambil dari usaha setiap bulan, misalnya setiap tanggal 1. Jumlahnya sebaiknya di bawah rata-rata laba bersihmu, supaya ada sisa untuk cadangan.
Contoh: kalau rata-rata laba bersih tiga bulan terakhir Rp3.000.000, kamu bisa menggaji diri sendiri Rp2.000.000 per bulan. Sisanya, Rp1.000.000, tetap di usaha untuk cadangan stok dan keperluan mendadak.
Di catatan, uang ini ditulis sebagai ambil pribadi, bukan biaya usaha. Kalau ditulis sebagai biaya, laba usahamu akan terlihat lebih kecil dari yang sebenarnya. Belum tahu laba bersihmu? Baca cara menghitung laba bersih warung.
5. Catat setiap kali terpaksa memakai uang usaha
Kadang ada keperluan mendadak. Boleh memakai uang usaha, asal dicatat sebagai ambil pribadi. Sebaliknya, kalau uang pribadi dipakai untuk usaha, catat sebagai tambah modal. Keduanya mengubah saldo kas, tapi bukan pemasukan atau pengeluaran usaha.
6. Catat juga barang dagangan yang dipakai sendiri
Mengambil beras atau minyak dari warung untuk dapur sendiri sama dengan mengambil uang. Catat dengan harga beli sebagai ambil pribadi, supaya stok dan labamu tetap benar.
7. Cocokkan setiap akhir bulan
Hitung uang usaha yang benar-benar ada (laci, dompet, rekening), lalu bandingkan dengan saldo di catatan. Kalau berbeda, cari transaksi yang lupa dicatat selagi masih ingat.
Pemisahnya sudah disiapkan
Template Pembukuan Usaha dari Junbiku punya kategori Tambah modal dan Ambil untuk pribadi. Keduanya mengubah saldo kas tetapi tidak dihitung sebagai laba, jadi laporanmu tetap jujur.
Lihat templateKesalahan yang sering terjadi
- Mengambil uang usaha "sebentar saja" lalu lupa mengembalikan.
- Menganggap semua uang di rekening usaha boleh dipakai.
- Tidak menggaji diri sendiri, sehingga pengambilan uang jadi tidak teratur.
- Memakai satu kartu atau satu e-wallet untuk semuanya.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Apakah harus punya rekening bank khusus usaha?
Tidak harus, tapi sangat membantu. Untuk mulai, dompet atau e-wallet terpisah sudah cukup, asal disiplin.
Bolehkah mengambil uang di luar jadwal gaji?
Boleh untuk keadaan mendadak, asal dicatat sebagai ambil pribadi. Kalau terlalu sering, mungkin gajimu terlalu kecil atau pengeluaran rumah perlu ditata ulang.
Usaha dijalankan bersama keluarga, bagaimana?
Sepakati siapa yang memegang kas dan berapa yang diambil setiap orang. Catat semua pengambilan atas nama masing-masing.