Cara Menentukan Harga Jual supaya Tetap Untung (dengan Contoh Angka)
Harga jual yang aman dihitung dari modal per barang (HPP), lalu dibagi dengan 1 dikurangi target untung. Misalnya modal Rp8.500 dan kamu mau untung 35% dari harga jual: Rp8.500 ÷ 0,65 = Rp13.077, dibulatkan ke Rp13.000. Jangan menebak dari harga tetangga saja, karena modal mereka belum tentu sama denganmu.
- Hitung modal per barang dengan jujur, termasuk kemasan dan biaya tetap.
- Tentukan target untung sebagai persen dari harga jual.
- Hitung: harga jual = modal ÷ (1 − target untung).
- Tambahkan potongan platform kalau jualan online.
- Cek harga pasar, lalu bulatkan.
- Hitung dulu sebelum memberi diskon.
1. Mulai dari modal yang jujur
Modal bukan cuma harga bahan atau harga beli barang. Masukkan juga kemasan, gas atau listrik, ongkos kirim dari grosir, dan bagian biaya tetap seperti sewa tempat. Cara lengkapnya ada di artikel cara menghitung HPP. Kalau angka modalnya keliru, harga jual sebagus apa pun akan ikut keliru.
2. Pilih target untung, dan bedakan margin dari markup
Dua istilah ini sering tertukar, dan akibatnya untungmu lebih kecil dari yang kamu kira.
- Markup adalah tambahan di atas modal. Modal Rp8.500 plus markup 35% jadi Rp11.475.
- Margin adalah untung sebagai persen dari harga jual. Dari Rp11.475 itu, untungmu Rp2.975, atau hanya 26% dari harga jual.
Kalau kamu ingin untung 35% dari harga jual, jangan pakai markup 35%. Pakai rumus di bawah.
Harga jual = Modal ÷ (1 − target untung)
Target untung 30% berarti membagi dengan 0,70. Target 40% berarti membagi dengan 0,60. Semakin besar target, semakin besar harga jualnya.
3. Contoh: es kopi susu satu gelas
Seorang penjual es kopi susu menghitung modal per gelas:
| Kopi, susu, gula, es | Rp5.500 |
| Gelas, tutup, sedotan | Rp1.500 |
| Bagian biaya tetap (sewa, listrik) per gelas | Rp1.500 |
| Modal per gelas | Rp8.500 |
|---|
Target untungnya 35% dari harga jual:
Rp8.500 ÷ 0,65 = Rp13.077, dibulatkan Rp13.000
Untung per gelas Rp4.500, atau sekitar 35% dari harga jual. Kalau terjual 50 gelas sehari, untung kotornya Rp225.000 per hari.
Bandingkan dengan cara markup: Rp8.500 × 1,35 = Rp11.475, dibulatkan Rp11.500. Untungnya Rp3.000 per gelas, atau 26% dari harga jual. Selisih Rp1.500 per gelas, kali 50 gelas, hilang Rp75.000 setiap hari.
4. Kalau jualan lewat aplikasi, hitung potongannya
Banyak platform menahan sebagian dari harga jual sebagai komisi. Besarnya berbeda-beda dan bisa berubah, jadi lihat angka terbaru di aplikasi yang kamu pakai. Sebagai permisalan, anggap potongannya 20%. Yang kamu terima hanya 80% dari harga di layar, jadi:
Harga di aplikasi = (Modal + untung yang diinginkan) ÷ 0,80
Untuk es kopi susu tadi: (Rp8.500 + Rp4.500) ÷ 0,80 = Rp16.250, dibulatkan Rp16.500. Kalau harga di aplikasi disamakan dengan harga di tempat (Rp13.000), kamu hanya menerima Rp10.400. Untungnya tinggal Rp1.900 per gelas.
5. Cek harga pasar, lalu putuskan
Setelah hitungannya ketemu, lihat harga produk serupa di sekitarmu. Ada tiga kemungkinan:
- Harga kamu mirip pasar: aman, tinggal jalan.
- Harga kamu lebih tinggi: cari alasan pembeli mau bayar lebih, misalnya ukuran, rasa, atau pelayanan. Atau turunkan modal, bukan untung.
- Harga kamu jauh lebih rendah: coba naikkan sedikit. Belum tentu pembeli pergi.
Bulatkan ke angka yang mudah, seperti Rp13.000 atau Rp13.500, supaya kembalian tidak merepotkan.
Sudah tahu harganya, tinggal dicatat
Template Pembukuan Usaha dari Junbiku membantu mencatat belanja, penjualan, dan laba rugi bulanan, jadi kamu bisa cek apakah untung nyata sesuai hitunganmu. Template ini tidak menghitung harga jual otomatis, jadi pakai rumus di atas. Bisa dibuka di Excel dan Google Sheets.
Lihat templateHati-hati dengan diskon
Diskon terlihat kecil, tapi memakan untung dengan cepat. Dari contoh tadi, diskon Rp2.000 membuat harga jadi Rp11.000 dan untung turun dari Rp4.500 menjadi Rp2.500. Untuk mendapat untung harian yang sama (Rp225.000), kamu harus menjual 90 gelas, bukan 50. Itu hampir dua kali lipat kerja untuk hasil yang sama.
Sebelum memberi diskon, tanya dulu: berapa tambahan pembeli yang harus datang supaya untungku tidak turun?
Kesalahan yang paling sering terjadi
- Memakai harga bahan saja sebagai modal.
- Tertukar antara markup dan margin.
- Menyamakan harga online dengan harga di tempat, padahal ada potongan.
- Meniru harga pesaing tanpa tahu modal sendiri.
- Tidak menghitung ulang saat harga bahan naik.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Berapa persen untung yang wajar?
Tidak ada angka tunggal. Tergantung jenis usaha, biaya, dan harga pasar di tempatmu. Mulailah dari angka yang menutup semua biaya dan masih memberi sisa untuk dirimu, lalu sesuaikan setelah melihat laba rugi beberapa bulan.
Kapan harga jual perlu dihitung ulang?
Setiap kali harga bahan atau sewa berubah cukup banyak, atau paling tidak setiap beberapa bulan. Catat tanggal hitungannya supaya tidak lupa.
Bagaimana kalau pesaing menjual lebih murah?
Jangan ikut turun tanpa menghitung. Bisa jadi modal mereka lebih rendah, atau mereka memang tidak menghitung biaya dengan lengkap. Pilih bersaing di kualitas, ukuran, atau pelayanan.
Apakah rumus ini untuk keperluan pajak?
Tidak. Rumus ini hanya membantumu menentukan harga dan memantau usaha. Untuk pajak, tanyakan ke petugas pajak atau konsultan.